Aktivitas Jurnalisme dalam 10 tahun ke depan
Jurnalisme warga atau citizen journalism yang biasanya diartikan sebagai kegiatan pencarian, pengumpulan, dan pengolahan data informasi untuk kemudian dipublikasikan kepada masyarakat melalui media massa yang dikirim oleh warga biasa yang tidak memiliki latar belakang disiplin ilmu jurnalisme.
Jurnalisme warga yang pada dasarnya dikembangkan oleh wartawan profesional yang menyikapi meningkatnya tingkat ketidakpercayaan warga terhadap media massa dan kesinisan warga terhadap politik di Amerika Serikat sekitar 1988 belakangan dalam satu dasawarsa perkembangannya begitu pesat di Indonesia.
Setelah bergulirnya era reformasi yang terjadi semenjak tumbangnya rezim orde baru sekitar pertengahan 1998, dunia jurnalisme di Indonesia cenderung menuju arah yang lebih bebas dalam menyatakan kritik, saran dan pendapat. Hal ini ditandai dengan munculnya beberapa instansi media massa yang baru maupun yang dulu pernah dibredel oleh rezim orde baru lahir kembali.
Menangkap realitas yang terjadi seperti itu, peran media massa pada umumnya kemudian menjadi begitu dominan dalam hal penyebaran informasi. Namun, kebebasan pers ternyata menimbulkan fenomena baru di Indonesia. Kritik pedas terhadap standar dan arogansi media membawa media berpikir tentang fungsi dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat dan bagaimana wartawan lebih responsif dengan masalah yang menjadi perhatian masyarakat.
Pada dasarnya, media massa setidaknya memiliki beberapa fungsi yang secara sadar harus dilakukan oleh media massa manapun. Diantaranya, media massa harus bersifat mendidik, menghibur, dan memberikan informasi yang benar. Berdasarkan kritikan pedas yang sering timbul itulah kemudian jurnalisme warga belakangan ini menjadi profesi yang tiba-tiba mengidola di masyarakat.
Jurnalisme warga mencoba mendefinisi ulang nilai berita, mempertanyakan nilai objektivitas dan imparsialitas, mendorong keterlibatan wartawan lebih besar sebagai peserta aktif dalam masyarakat, dan menginginkan praktik jurnalisme yang mencerminkan keragaman kultural di masyarakat.
Kemunculan gerakan jurnalisme warga merupakan reaksi terhadap jurnalisme konvensional yang menghiraukan kewajiban untuk mewakili kepentingan pembacanya, dan dalam tingkat tertentu menjadi alat mengeruk keuntungan semata.
Bila dihubungkan dengan dunia jurnalisme di Indonesia yang memiliki pangsa pasar yang luas dan majemuk, keberadaan jurnalisme warga tentunya secara tidak langsung akan menjadi saingan tertentu bagi para wartawan professional yang memang memiliki latar belakan disiplin ilmu dunia jurnalistik.
Namun, bila bercermin kepada sejarah yang pernah terjadi di Amerika Serikat, jurnalisme warga yang dijalankan oleh media massa tidak mampu bertahan lama. Seperti yang diketahui, industri media massa merupakan ranah bisnis yang memiliki persaingan yang tidak kalah ketat bila dibandingkan dengan bisnis lainnya di luar bisnis media massa. Pembuatan program berita yang memerlukan dana besar serta kredibilitas sumber daya manusia menjadi hal yang paling penting dalam bisnis media massa.
Sebagai contoh, tahun 2003 pelopor civic journalism the Pew
Center of Civic Journalism membubarkan diri. Civic journalism ini membuka pintu bagi tumbuhnya jurnalisme warga dimana warga yang mempunyai berita, dan foto dapat menyampaikannya langsung melalui blog atau ke beberapa mainstream media yang sudah mengakomodasi. Dan medium jurnalisme warga yang saat ini sangat popular pada masyarakat adalah medium internet.
Peran media sosial dalam penyebaran informasi dan aktivitas jurnalisme
Layanan online harus diakui memang memiliki kedekatan tersendiri terhadap penggunanya. Interaksi sosial yang dibangun dalam medium media online lebih memiliki hubungan kuat dibandingkan dengan interaksi sosial yang dibangun diluar media online.
Bila dihubungkan dengan duia jurnalisme, yang notabene sama-sama menjual informasi sebagai komoditasnya, keberadaan media online dimungkinkan akan sangat menjadi pesaing berat bagi media massa yang konvensional.
Wartawan adalah rakyat yang menghubungkan – maksudnya, mampu menemukan sumber informasi yang relevan untuk berbagai cerita. Baik, didapat dari media sosial maupun dari pelaporan yang banyak memiliki gangguan dan berfungsi sebagai penghubung ke masyarakat. Ketika internet meluas, akan sulit mencari kesempatan untuk bertarung antar wartawan – itu mungkin yang sedang ditakutkan karena bisa mendapatkan sumber melalui situs-situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain.
Jika bisa mengelola berbagai macam informasi dan mencari kesempatan untuk perang anatar perangkat menjadi efektif dengan tujuan dan media sosial menjadi benar-benar efektif. Mashable berbicara mengenai wartawan dan industri untuk melihat bagaimana mereka menggunakan media sosial dalam pekerjaan hariannya.
Media internet, yang belakangan keberadaannya begitu dominan di masyarakat. Menjadi pusat percakapan simultan yang merefleksikan massa untuk menekan perhatian. Oleh karena itu, para pengguna media online tidak sulit lagi untuk memotong dan meletakkan jari di atas cerita. Artinya, masyarakat tidak akan sulit untuk membuat dan mencari informasi yang dipilih sesuai selera dan kebutuhan masing-masing individu. Mereka akan sangat dimanjakan oleh keberadaan informasi yang dimiliki oleh media online.
Mengenai keberadaan situs-situs media jejaring sosial, fasilitas serta regulasi informasi yang ada pada jejaring sosial mampu memberikan dampak besar kepada masyarakat luas atas isi informasinya. Namun, bagi pengguna yang “melek” keberadaan informasi yang ada pada jejaring sosial mungkin tidak sepenuhnya akan dipercaya begitu saja.
Namun demikian, harus diakui keberadaan media jejaring social dapat dijadikan alat yang sempurna untuk menyebarkan informasi baik yang bersifat individual maupun universal. Bahkan media jejaring social pun dapat memberikan keuntungan tersenderi bagi penggunanya seperti memperluas relasi yang dapat memberikan pekerjaan. Ketika kita berbagi cerita, kita memiliki kemampuan menggapai banyak orang dibanding pelanggan majalah. kita dapat juga melakukan diskusi di Facebook atau Twitter. Dengan cara ini, kita dapat mengukur bagaimana pembaca kita sedang beraksi terhadap informasi atau cerita yang kita buat dan juga dapat melihat kesadaran atas suka atau tidak.
Peranannya terhadap aktivitas jurnalisme, keberadaan media sosial terutama situs-situs jejaring sosial, memberikan dampak yang secara bersamaan bisa menjadi hal yang positif dan negatif. Dampak positifnya, bagi instansi media massa yang sudah mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan mau menyikapi keberadaan situs-situs jejaring sosial dangan cara pandang yang arif dan bijaksana, mereka justru menjadikan situs-situs jejaring sosial sebagai medium baru untuk penyebaran informasi yang mereka punya. Dengan begitu, masyarakat pun akan mendapatkan informasi yang tingkat validitasnya terjamin.
Sementara itu, bagi madia massa yang mungkin masih memerankan bisnisnya secara konvensional, keberadaan situs-situs jejaring sosial mungkin akan menjadi pesaing baru lagi bagi bisnis mereka. Dengan begitu, secara otomatis eksistensi media massa yang menjalankan bisnisnya secara konvensional akan semakin terjepit bahkan mungki lama kelamaan akan benar-benar punah.
Bagi para insan pers, keberadaan situs-situs jejaring sosial cenderung akan lebih berguna hanya sebatas referensi pelengkap bagi pencarian informasi yang dibutuhkan. Sebab, mereka para insan pers, sebagian besar sudah tahu bahwa validitas informasi yang berseliweran ada pada situs-situs jejaring sosial kredibilitas dan validitas datanya masih diragukan. Apalagi informasi-informasi data yang berkenaan dengan kepentingan khalayak.
Namun, media sosial harus diakui sudah bisa dijadikan sumber daya yang menghubungkan pembaca dengan pembuat informasi secara langsung. Media sosial juga dapat menciptakan suatu komunitas. Menurut Steph Yiu, editor RedEye, penerbitan menggunakan Facebook ke Google Wave untuk hubungan ke pembaca. Pembaca dapat membuka akses blog dan ode-ide mereka juga sering dimasukkan ke artikel. “Kita benar-benar berinteraksi dengan pendengar kami,” kata Yiu.
Dhita Seftiawan (KIA043054) / Winarni (KIA070204)
Senin, 03 Mei 2010
Senin, 19 April 2010
Robot Kulkas
Sebuah kulkas atau lemari es dengan fungsi yang tidak hanya sebagai alat pendingin. Di 10 tahun mendatang, kulkas berfungsi juga sebagai alat komunikasi. Bentuk fisiknya tidak seperti kulkas pada zaman sekarang ini, pintu kulkas berupa layar LCD yang mampu menginformasikan isi kulkas, seperti susu dan telur telah habis dan menawarkan untuk melakukan pembelian ke toko terdekat. Selain itu, kulkas juga mampu untuk internetan dengan keyboard yang touchscreen pada pintu kulkas.
Alat rumah tangga ini, sangat membantu para ibu agar tidak ketinggalan informasi juga. Tidak hanya untuk internetan dan penyuruh membeli belanjaan. Robot kulkas ini juga bisa untuk menonton acara televisi dan menyetel DVD. Tombol power terletak pada gagang pintu kulkas, sementara DVD drivernya terletak di atas kulkas dan speakernya terletak di samping kulkas tanpa merubah bentuk kulkas itu sendiri.
Alat rumah tangga ini, sangat membantu para ibu agar tidak ketinggalan informasi juga. Tidak hanya untuk internetan dan penyuruh membeli belanjaan. Robot kulkas ini juga bisa untuk menonton acara televisi dan menyetel DVD. Tombol power terletak pada gagang pintu kulkas, sementara DVD drivernya terletak di atas kulkas dan speakernya terletak di samping kulkas tanpa merubah bentuk kulkas itu sendiri.
Selasa, 06 April 2010
Apple iTablet dan Microsoft Courier
Pada saat itu diketahui bahwa (berkenaan dengan fitur dari produk Microsoft yang baru) akan memiliki dual layar 7-inci dengan dukungan multitouch dimana pengguna akan dapat membalikkan halaman, menulis, dan menggambar dengan menggunakan jari-jari atau sebuah pena stylus. Layar juga akan menunjukkan tingkat daya baterai dan status koneksi internet di daerah samping. Selain itu, Microsoft Courier akan datang dengan foto kamera di bagian belakang perangkat, namun tidak diketahui berapa banyak piksel akan ditampilkan. 
Adapun Apple iTablet, satu-satunya hal yang dikenal pada saat ini adalah Asus akan berkolaborasi dengan perusahaan Steve Job’s untuk membuat gadget ini. Dan juga desas-desus bahwa Apple akan difokuskan pada penciptaan perangkat ini dalam rangka untuk menutup kesenjangan antara biaya produksi sebuah iPod (harga eceran sekitar US $ 200) dan biaya produksi sebuah MacBook (harga eceran = US $ 999) . Karena itu, diyakini bahwa harga eceran Apple iTablet akan mendekati US $ 700.
Desain Apple iTablet masih merupakan misteri, meskipun beberapa analis memperkirakan yang akan tampak seperti sebuah iPod Touch dengan dimensi lebih besar. Di sisi lain, non-gambar resmi diterbitkan di web tapi sangat mungkin bahwa itu adalah gambar palsu, dilihat oleh desain miskin. Selain itu, beberapa hari yang lalu, sebuah video yang seharusnya untuk menunjukkan sebuah tablet-dioptimalkan Wired edisi dalam iTablet Apple juga diterbitkan ... tidak ada komentar resmi dari Apple. Anda dapat melihat video di bawah ini:
Desain Apple iTablet masih merupakan misteri, meskipun beberapa analis memperkirakan yang akan tampak seperti sebuah iPod Touch dengan dimensi lebih besar. Di sisi lain, non-gambar resmi diterbitkan di web tapi sangat mungkin bahwa itu adalah gambar palsu, dilihat oleh desain miskin. Selain itu, beberapa hari yang lalu, sebuah video yang seharusnya untuk menunjukkan sebuah tablet-dioptimalkan Wired edisi dalam iTablet Apple juga diterbitkan ... tidak ada komentar resmi dari Apple. Anda dapat melihat video di bawah ini:
Adapun Microsoft Courier, tampaknya, PC Tablet ini dalam tahap perkembangan terakhir dan fitur-fiturnya akan membuatnya terlihat lebih mirip Booklet daripada Tablet PC. Meskipun pengenalan resmi perangkat ini belum dilakukan, Microsoft telah mempelajari tayangan dari beberapa pengguna yang telah menggunakan Tablet PC, yang merupakan istilah yang merujuk pada komputer yang dilengkapi dengan layar sentuh (atau grafis tablet / screen hybrid) dan pengaturan kompleks, aplikasi dan mode.Dampak:
Perubahan komunikasi menurut Rogers terdiri dari beberapa indikasi, diantaranya:
1) Interactivity: kemampuan berkomunikasi secara dua arah
2) Demassified: kemampuan komunikasi yang bersifat massal/individual
3) Asynchronous: proses komunikasi yang tidak serempak
Sosial--> Realitas sosial masyarakat Indonesia yang sudah "melek teknologi" akan semakin meningkat walaupun tidak serempak. Kesenjangan sosial akibat perkembangan teknologi yang secara bombastis terus menerus menerpa masyarakat dunia tidak mungkin bisa dihindari. Mungkin untuk masyarakat Indonesia, kedatangan era teknologi yang semakin maju dengan pesat, hanya bisa diadaptasi secara perlahan dan harus terus bekelanjutan.
Ekonomi --> Dengan nilai harga sekitar $ 700, diperkirakan untuk pangsa pasar di Indonesia harga tersebut masih begitu sulit dijangkau. Mungkin untuk para kalangan menengah ke atas, harga tersebut masih bisa dipertimbangkan. Terlebih bagi mereka yang secara konsisten mau terus mengkonsumsi produk-produk keluaran Apple. Hal tersebut bisa dilatarbelakangi lantaran hobi semata atau pun sebagai sebuah "identitas keberhasilan" dan menjadi lambang pergaulan bagi orang-orang tertentu. Sedangkan untuk masyarakat umum (menengah ke bawah), dengan hadirnya Apple iTablet dan Microsoft Courier, belum tentu dapat merubah atau berakibat banyak bagi mereka. Sebab, kemungkinan untuk bisa mengakses dan membelinya pun sangat sulit untuk direalisasikan.
Budaya --> Di Indonesia, dengan budaya masyarakat yang beraneka ragam dan begitu peduli terhadap perkembangan teknologi, kemungkinan dengan hadirnya Apple iTablet dan Microsoft Courier sedikit banyak akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat perkotaan. Orang-orang kota akan semakin dimanjakan dan tingkat efisiensi pekerjaan pun akan semakin meningkat. Tetapi, untuk kalangan bawah, hadirnya Apple iTablet dan Microsoft Courier justru akan memperlebar jarak kesenjangan digital bagi masyarakat Indonesia yang belum makmur.
Dhita Seftiawan
KIA043054
Minggu, 04 April 2010
Charger Tanpa Listrik Mengurangi Efek Global Warming
Green Teknologi bukanlah isu baru. Beberapa industri telah mengambil peluang besar ini dengan menerapkan produksi perangkat-perangkat teknologi yang ramah lingkungan, baik produk yang hemat energi, terbuat dari bahan bebas polusi atau bisa didaur ulang, maupun produk dengan tenaga dari sumber daya alam.
Menginjak 2010, teknologi hijau rupanya makin gencar diterapkan olah kalangan industri. Ini bisa dilihat di Consumer Electronics Show di Las Vegas, 7-10 Januari lalu. Pada pameran elektronik internasional terbesar itu, banyak dipamerkan perangkat teknologi hijau dengan inovasi-inovasi baru. Consumer Electronics Association, penyelenggaranya, bahkan membuka satu ruang pameran khusus untuk "green technology". Inilah beber apa perangkat "hijau" yang dipamerkan disana.

Charger Ponsel YoGen
Salah satu perangkat ramah lingkungan yang dipamerkan di CES 2010 ini cukup unik. YoGen Hand Charger, nama perangkat ini, adalah pengisi ulang baterai telepon seluler yang di dalamnya terdapat roda seperti mainan yo-yo. Putaran roda bisa memproduksi sumber energi hingga 5 watt. Untuk mengisi ulang, pengguna tinggal menarik tali untuk memutar roda, seperti memainkan yo-yo. Satu menit tarikan cukup untuk mengisi ulang ponsel. Harga perangkat ini US$ 40 atau sekitar Rp 400 ribu saja.
Charger Tenaga Angin
Zona sustainable planet di CES 2010 menampilkan sejumlah charger dan perangkat kecil lain yang bertenaga surya. Seperti lampu kebun, lampu kilat, dan lentera berkemah. Salah satunya adalah Mini Wiz dari HyMini. Mini Wiz adalah charger baterai AA dengan tenaga angin yang dapat diletakkan di sepeda untuk mengisi ulang.
Charger Tenaga Surya Regen
ReNu Regen merilis sistem pengisian ulang tenaga surya yang didesain untuk rumah. Setiap charger dilengkapi panel surya 6 watt dan bisa diintegrasikan ke baterai dengan colokan USB. Charger ini juga terintegrasi dengan sebuah terminal untuk speaker, sebuah lampu meja LED, serta pengisi ulang untuk iPod.
Charger Tenaga Surya Freeloader
Charger ini didesain dengan dua panel surya kecil dan baterai litium terintegrasi. Seperti charger tenaga matahari lainnya, Freeloader Pro bisa digunakan untuk mengisi ulang ponsel, GPS, kamera digital, camcorder, dan gadget lainnya. Perangkat ini bisa menyesuaikan diri dengan berbagai peranti berbeda yang hendak diisi ulang.Baterai litium pada charger ini butuh waktu delapan jam untuk mendapat tenaga dari panel surya. Namun baterai yang lebih besar juga tersedia, dan mampu memotong waktu pengisian menjadi tiga jam saja. Itu cukup untuk mengisi ulang sebuah iPod hingga pemakaian 28 jam atau 70 jam kekuatan standby sebuah ponsel.
Dampak
1. Ekonomi
Charger yang terbilang murah untuk kalangan atas, baru akan dikonsumsi oleh kalangan
masyarakat menengah ke bawah setelah banyak produknya.
2. Lingkungan
Membantu mengurangi efek global warming yang sedang melanda bumi kita, serta pemakaian
listrik yang semakin menurun.
winarni
210110070204
Menginjak 2010, teknologi hijau rupanya makin gencar diterapkan olah kalangan industri. Ini bisa dilihat di Consumer Electronics Show di Las Vegas, 7-10 Januari lalu. Pada pameran elektronik internasional terbesar itu, banyak dipamerkan perangkat teknologi hijau dengan inovasi-inovasi baru. Consumer Electronics Association, penyelenggaranya, bahkan membuka satu ruang pameran khusus untuk "green technology". Inilah beber apa perangkat "hijau" yang dipamerkan disana.

Charger Ponsel YoGen Salah satu perangkat ramah lingkungan yang dipamerkan di CES 2010 ini cukup unik. YoGen Hand Charger, nama perangkat ini, adalah pengisi ulang baterai telepon seluler yang di dalamnya terdapat roda seperti mainan yo-yo. Putaran roda bisa memproduksi sumber energi hingga 5 watt. Untuk mengisi ulang, pengguna tinggal menarik tali untuk memutar roda, seperti memainkan yo-yo. Satu menit tarikan cukup untuk mengisi ulang ponsel. Harga perangkat ini US$ 40 atau sekitar Rp 400 ribu saja.
Charger Tenaga Angin Zona sustainable planet di CES 2010 menampilkan sejumlah charger dan perangkat kecil lain yang bertenaga surya. Seperti lampu kebun, lampu kilat, dan lentera berkemah. Salah satunya adalah Mini Wiz dari HyMini. Mini Wiz adalah charger baterai AA dengan tenaga angin yang dapat diletakkan di sepeda untuk mengisi ulang.
Charger Tenaga Surya Regen ReNu Regen merilis sistem pengisian ulang tenaga surya yang didesain untuk rumah. Setiap charger dilengkapi panel surya 6 watt dan bisa diintegrasikan ke baterai dengan colokan USB. Charger ini juga terintegrasi dengan sebuah terminal untuk speaker, sebuah lampu meja LED, serta pengisi ulang untuk iPod.
Charger Tenaga Surya Freeloader Charger ini didesain dengan dua panel surya kecil dan baterai litium terintegrasi. Seperti charger tenaga matahari lainnya, Freeloader Pro bisa digunakan untuk mengisi ulang ponsel, GPS, kamera digital, camcorder, dan gadget lainnya. Perangkat ini bisa menyesuaikan diri dengan berbagai peranti berbeda yang hendak diisi ulang.Baterai litium pada charger ini butuh waktu delapan jam untuk mendapat tenaga dari panel surya. Namun baterai yang lebih besar juga tersedia, dan mampu memotong waktu pengisian menjadi tiga jam saja. Itu cukup untuk mengisi ulang sebuah iPod hingga pemakaian 28 jam atau 70 jam kekuatan standby sebuah ponsel.
Dampak
1. Ekonomi
Charger yang terbilang murah untuk kalangan atas, baru akan dikonsumsi oleh kalangan
masyarakat menengah ke bawah setelah banyak produknya.
2. Lingkungan
Membantu mengurangi efek global warming yang sedang melanda bumi kita, serta pemakaian
listrik yang semakin menurun.
winarni
210110070204
Langganan:
Postingan (Atom)
